Lukisan Dua Ulama Asal Kudus Ikut Ramaikan Pameran Bertajuk “Sang Kekasih” Di Jakarta

0
835
istimewa

RAKYATMURIA.COM, JAKARTA– Ada dua ulama Kudus yang ikut serta dalam pameran tunggal lukisan kiai-kiai Nusantara bertajuk “Sang Kekasih” karya Nabila Dewi Gayatri di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta 8 – 14 Mei 2017. Dua ulama tersebut adalah Pendiri Qudsiyyah, KHR Asnawi dan KH. M. Sya’roni Ahmadi.

KHR Asnawi adalah pendiri Madrasah Qudsiyyah yang didirikan pada tahun 1919, sekaligus salah satu pendiri jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926. Sedangkan KH. M. Sya’roni Ahmadi merupakan Musytasar PBNU periode 2010-2015 dan periode 2015 hingga sekarang. KH. M. Sya’roni merupakan sesepuh sekaligus Nadhir Qudsiyyah Kudus. Beliau merupakan salah satu sosok guru teladan di Qudsiyyah yang telah mengabdikan diri di Qudsiyyah lebih dari 64 tahun, yakni mengabdi sejak tahun 1952.

Sebagaimana ditulis dalam laporan NUONLINE, pameran ini digelar oleh NU Gallery dan dibuka oleh KH Said Aqil Siroj dengan memukul gong sembilan kali. Pembukaan disaksikan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Polisi Tito Karnavian, Ketua PBNU H. Marsudi Syuhud, AIzuddin Abdurrahman, Robikin Emhas, Ketua Umum Pimpinan Pusat PSNU Pagar Nusa M. Nabil Harun, Ketua Umum PP Fatayat NU, dan tamu undangan lain.

Ada Sekitar 50 lukisan kiai karya perupa kelahiran Gresik, Jawa Timur ini, diantaranya memamerkan lukisan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Sansoeri, Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, KH Said Aqil Siroj, KH A Mustofa Bisri, KH Tolchah Hasan, dan lain-lain.

Menurut Nabila, pameran tersebut mengajak khalayak mengingat kembali para kiai terdahulu yang telah berjuang demi umat tanpa pamrih. “Jika saya merujuk sejarah, kiai-kiai ini adalah orang di belakang Soekarno ketika Indonesia akan merdeka,” katanya di gedung PBNU. Hidup mereka, katanya, penuh dengan perjuangan. Segala ucapan dan tindakan mereka tiadak lain demi kemaslahatan umat.

Baca Juga :   Keakraban Bupati Kudus Bersama Para Tahfidz

Hal itu karena para kiai yang dilukisnya mengaji tidak hanya pada kitab kuning, hadits dan Al-Qur’an, tapi mengaji kehidupan. “Ngaji urip, segala yang dihamparkan Allah, itu ayat nyata. Mereka semua murid kehidupan,” tegasnya.

Karena mereka mengaji kehidupan, lanjutnya, tindak-tanduknya santun dan tawadhu. Mereka tidak berbicara jika memang tidak penting untuk berbicara. Mereka menangis ketika melihat orang susah. Mereka memberikan apa yang dipunya.

Pameran itu juga mengajak khalayak mengingat KH Abbas Buntet. Kiai tersebut, menurut dia, adalah panglima perang pada peristiwa 10 November. Dia kiai asal Cirebon, santri di Tambakberas.

Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri mengomentari pameran lukisan Nabila Dewi Gayatri dengan menunkil sebuah hadits “Innallaha jamil yuhiibul jamal”. Artinya Allah itu Maha Indah menyukai keindahan. Ciptaan-ciptaan Allah yang serba indah menginspirasi makhluknya, manusia, untuk menirunya. Atau dengan istilah lain, berkesenian.

“Angin dengan tinggi rendah temponya menggesek daun-daun cemara, ditingkahi irama alunan ombak laut dan rintik hujan, menginspirasi manusia untuk melahirkan seni musik,” kata kiai yang akrab disapa Gus Mus tersebut pada katalog pameran bertajuk Sang Kekasih yang akan dibuka Ketua Umum PBNU di hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (8/5).

Baca Juga :   Tips Sederhana Menyimpan Tomat Agar Awet Tahan Lama

Sementara keindahan laut, lanjut kiai yang penyair dan pelukis itu, dengan riak-riak ombak gelombang dan ikan-ikannya, hingga cakrawala dan langit biru dengan awan-awannya yang berarak di atasnya; gunung-gunung, kelok-kelok sungai dan gemericik airnya; pepohonan, belukar, gelaran hijau sawah, dan rerumputan; bahkan berbagai bentuk dan rona wajah manusia itu sendiri; menginspirasi manusia untuk melahirkan seni rupa.
“Lihatlah pameran berjudul Sang Kekasih yang digelar oleh pelukis perempuan, Nabila Dewi Gayatri ini. Sebagai pelukis yang mecintai para kiai, alias ulama Nusantara, Nabila yang sebanrnya pelukis surealis mencoba menghadirkan sosok idolanya dalam lukisan realis, naturalis,” jelas Gus Mus.
Dengan pameran itu, lanjut Gus Mus, sang pelukis mengajak bernostalgia, berharap orang-orang terutama para santri sekarang dapat mengenang bukan hanya kedalaman ilmu dari para ulama pendahulu tersebut, tapi terutama juga mengingat kearifan dan perjuangan mereka dalam berkhidmah kepada agama, umat, bangsa dan negara.

“Dengan kata lain, Nabila ingin lukisan-lukisan ini dapat menjadi obat kangen yang pada gilirannya dapat mengobarkan semangat penghormatan kepada ulama Nusantara yang teduh mengayomi, yang tidak hanya alim, tapi arif dan penuh dedikasi bagi agama, umat, dan tanah air mereka.”

Menurut Gus Mus, Nabila yang putri seorang kiai itu, dengan lukisannya yang khusus menampilkan wajah-wajah kiai yang merupakan ahli agama (Islam) juga menghapuskan kesan keterpisahan agama (kebenaran) dengan seni (keindahan) yang dikesankan oleh sementara orang.

Facebook Comments