Fosil Gajah Purba Raksasa Berusia 1,2 Juta Tahun Ditemukan Di Grobogan

0
583
Replika Stegodon

RAKYATMURIA.COM, GROBOGAN-Fosil gajah purba raksasa jenis Stegodon ditemukan di Desa Banjarejo, Grobogan, Fosil yang diperkirakan telah berusia sekitar 1,2 juta tahun tersebut ditemukan oleh warga ketika sedang menggali sumur di ladang. Kondisi relatif masih utuh.

Penemunya adalah Rusdi, 70 tahun. Dia menemukan fosil tersebut saat menggali sumur pada kedalaman 1,5 meter di ladangnya pada Kamis (8/6) lalu. Melihat temuan itu dia lalu melaporkannya ke balai desa setempat.

Warga sempat melakukan penggalian di lokasi temuan. Hasilnya fosil tulang belulang gajah purba yang masih terlihat utuh. Ukurannnya diperkirakan 2-3 kali lebih besar dibanding gajah saat ini. Temuan itu selanjutnya dilaporkan ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) di Sangiran, Sragen, pada hari Minggu.

Warga Banjarejo memang sudah tidak asing lagi dengan temuan fosil. Di desa itu memang sering ditemukan fosil. Sejauh ini, tercatat tidak kurang dari 1.100 patahan fosil dari 15 jenis hewan purba ditemukan di desa tersebut, mulai dari gajah, badak, buaya, kerbau purba dan lain-lainnya.

Baca Juga :   Pengungsi Korban Banjir Kudus Dipulangkan

Pihak BPSMP Sangiran menyebut penemuan fosil gajah purba kali ini sangat fenomenal karena masih utuh dan lengkap, termasuk sepasang gading sepanjang 4 meter. Tim dari BPSMP sudah melakukan cek ke lokasi penemuan pada Senin (12/6) lalu. Dari pengamatan awal, diperkirakan adalah gajah purba jenis Stegodon.

“Ini penemuan yang fenomenal. Kami perkirakan fosil ini adalah Stegedon. Nanti akan dikaji lagi. Yang jelas, fosil masih utuh dan berada dalam satu lokasi penggalian,” kata Kepala BPSMP, Sukronedi, Rabu (14/6/2017) dikutip dari detik.com.

Baca Juga :   RSUD Kudus "Angkat Tangan", Korban Kecelakaan Maut Gunungkidul Dirujuk Ke Solo

Dijelaskannya, di Indonesia terdapat tiga generasi gajah purba yang pernah hidup, yaitu Mastodon (1,5 juta tahun lalu), Stegodon (1,2 juta tahun lalu), dan Elephas yang hidup pada sekitar 800.000 tahun lalu.

Tim BPSMP, kata Sukronedi, baru akan melanjutkan eskavasi atau penggalian lokasi seusai lebaran. Hal itu dikarenakan penggalian pada bulan puasa akan banyak menguras tenaga mengingat luasan situs yang akan digali mencapai radius 5 x 6 meter. Padahal penggalian harus dilakukan pada siang hari.

“Penggalian bisa saja dilakukan pada malam hari, tapi terlalu berisiko untuk fosilnya. Tulang-tulang bisa rusak terkena cangkul atau linggis pada saat penggalian. Saat ini langkah yang diambil adalah pengamatan, upaya penyelamatan awal fosil dan menutup lokasi penggalian dengan terpal,” ujarnya. (al)

Facebook Comments